titik tengah INDONESIA,

ditandai persis ditengah sebuah situs Megalitikum berupa lingkaran Batu membentuk angka Nol bernama GARUGA. Ditengah lingkaran terdapat batu yang menjadi titik pertengahan INDONESIA.

Selamat datang di Desa Umpungeng,

Sebuah kawasan yang terjaga kemurnian alamnya sejak dulu,kini dan Isnya Allah dimasa yang akan datang. Mari kita jaga Umpungeng agar tetap menjadi sumber mata air kita bersama.

GARUGAE, symbol titik tengah INDONESIA

Lingkaran Batu yang disebut Lalebata (Garugae) merupakan situs megalitikum peninggalan sejarah Bugis.

Batu Cinta

Lubang batu yang terbentuk secara alami oleh terpaan air di pinggir sungai Batuletengnge Umpungeng.

Alam Umpungeng

Menyimpan aneka flora dan fauna yang warna warni, mari nikmati kesejukan alamnya dan jaga kelestariannya.

Kawasan pertanian

Mayoritas warga Umpungeng berprofesi sebagai Patani,sebagian besar bertani Cengkeh, sisanya menanam kopi, fanili, kemiri, pangi dan berbagai jenis umbi umbian lainnya.

Pengrajin Gula Aren?

luas areal hutan pohon aren di kawasan Umpungeng mencapai 620 ha (4% dari luas hutan) menjadikan kawasan ini sebagai sentra Gula aren.

Kus kus

Kus-kus atau orang Umpungeng menyebutnya Memu adalah hewan yang paling ramah dan juga langkah, hidup di alam liar namun jinak sama manusia.

Burung Rangkong Sulawesi

Burung Rangkong (Alo bagi orang Umpungeng)merupakan salah satu hewan endemik di Kawasan Umpungeng yang dilindungi,mari kita jaga dan lestarikan keberadaannya

Rusa Sulawesi

Rusa jenis ini hidup berkelompok dan masih bisa dijumpai di kawasan Umpungeng, hanya saja warga sering melakukan perburuan liar yang mengakibatkan Rusa Sulawesi ini terancam punah. Ayo kita lindungi!

Kawasan resapan air

Aliran 5 sungai yang bermuara pada sungai langkemme menjadi pemasok utama irigasi pertanian untuk kawasan Kabupaten Soppeng dan sekitarnya.

Aliran sungai-sungai yang sejuk dan indah

Sungainya mengalir sepanjang tahun, disepanjang sungai dipenuhi tumbuh-tumbuhan herbal yang kaya manfaat untuk obat ataupun nutrisi bagi kehidupan kita.

Hamparan bukit Umpungeng

Deretan 3 bukit menyerupai manusia yang sedang terbujur (Wuju), Inilah tanah leluhur yang hampir luput dalam sejarah.

Pesona Keindahan Air Terjun

Kejernihan dan kebersihan airnya memberi kesegaran dan kesan alam yang kuat

Donasi Pohon Aren

Ayo berpartisipasi untuk menjaga sumber mata air bersama

Pembangunan Masjid Nol Satu

Sebagai sarana ibadah ditengah kesejukan alam sekaligus sbagai simbol titik pertengahan Indonesia.

SEO

SEO Links Exchanges, Blog Link Building Service Build Your Links For Free, Links Building Service SEO Links Attitude | Free SEO Links Building Free Backlink Service, Links Building 4 Free
Sudirman-(Inisiator) "Jiwa keINDONESIAan anda tidak akan lengkap jika belum berkunjung ke Umpungeng - Jantung Hati INDONESIA


Sinardin(Pengurus Masjid Jabal Nur)"Kami sedang membangun Masjid,bantu kami mewujudkannya"


Sose-(Tokoh Muda Umpungeng) "Semoga Umpungeng dapat terus mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan"


Nasrullah Rahman- (Remaja Masjid Umpungeng) -"Kami akan belajar menjadi tuang rumah yang baik. Kehadiran anda senantiasa kami harapkan.


Wahyuddin-(Kepala Dusun)"Kami senang Anda bisa berkunjung ke Umpungeng.Bantu kami memperbaiki keadaan kami disini.


Ayahanda Gurutta Ismail-(Imam Masjid Umpungeng)"Kami mengundang ANDA untuk berbagi Ilmu disini, bantu kami keluar dari keterbelakangan.


Mus'ing Manab, SAg.MPd.-(Tokoh Masyarakat)"Mari menjaling tali silaturrahiim (AssisUmpungeng).


Nurul Hikmah, S.Pd.-(Tokoh Pemuda)"Belajar dari alam demi memaknai hidup


Ibu Sitti Hasanah-(Tokoh Masyarakat)"Mari bersama-sama membangun Umpungeng yang beradab, berilmu, berakhlak & beriman.


Ibu Badriah-(Tokoh Masyarakat)"Kami bangga menjadi bagian dari keluarga besar Umpungeng yang Alamnya Allah yang ciptakan begitu luar biasa indah. Mari bersama menjaganya.


Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Maret 2016

Kunjungan Silaturrahim Bupati Soppeng

Hari ini warga Umpungeng bersukacita atas  tiga hal yang kesemuanya Insya Allah dapat menjadi jalan keberkahan bagi masyarakat khususnya warga Lalabata Umpungeng. Hal pertama adalah  venomena alam yang hanya terjadi pada kurung waktu 300 tahun yakni Gerhana Matahari, hal yang kedua adalah turunnya hujan dan hal yang ketiga yang juga sangat special adalah Kunjungan Silaturrahiim Bupati Soppeng Andi Kaswadi Razak, bersama rombongan yang terdiri dari Dandim 1423 Letkol Inf Jeffry, Kepala Kejaksaan Negeri Soppeng Atang Pujianto, Kepala Dinas Satpol PP Soppeng Andi Darliawan, Kepala Dinas Kehutanan Kab.Soppeng beserta rombongan pada hari Rabu (9/3/16) siang.
Bagi Bupati, ini adalah kunjungan biasa selaku Kepala Daerah yang baru terpilih. Namun bagi warga Tanah Rigella e,  ini merupakan kunjungan kehormatan yang langka karena tidah semua Bupati yang terpilih  dapat melakukan kunjungan ke daerah pegunungan  terisolir seperti halnya daerah Umpungeng. Tercatat hanya tiga Bupati pendahulu nya yang telah melakukan kunjungan ke daerah yang berjarak kurang lebih 45 kilometer dari ibukota Kabupaten Soppeng. Mereka adalah Pemimpin yang dikenang oleh warga Umpungeng sebagai pemimpin yang berdedikasi tinggi karena keteguhannya untuk datang menyapa warganya di tanah tinggi Umpungeng meski dengan susah payah berjalan kaki berjam-jam pada masa itu. Para Pemimpin kharismatik itu adalah H.A. Madeali, Jamaluddin dan H.A.Hartasanjaya.  Kini warga papa Umpungeng kembali mendapat kunjungan dari seorang Pemimpin  muda H.A.Kaswadi Razak yang juga memiliki kharisma kerakyatan yang sudah sangat akrab dengan hati rakyat Umpungeng karena perhatian dan dedikasinya yang rajin menjalin silaturrahiim jauh sebelum terpilih menjadi Bupati Soppeng. Ini adalah kunjungan pertama setelah Pelantikan nya jadi Bupati,namun beliau berjanji untuk segera kembali berkunjung ke tempat yang sama dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Menurut informasi dari aparat desa Umpungeng, Sengaja kunjungannya ke Titik Nol Indonesia di rahasiakan alias tanpa informasi jauh sebelumnya, layaknya para Pejabat pada umumnya. Alasannya lagi-lagi sungguh mengesankan, beliau tidak ingin merepotkan warganya. H.A.Kaswadi Razak dan Rombongan berkumpul di Rujab Bupati Soppeng, Jl Lamungpatue, Kelurahan Botto, Kecamatan Lalabata, Soppeng, Sulsel.
Kunjungan ke daerah pegunungan yang menyimpan banyak keindahan alam dan sejarah Bugis Kuno ini, dalam rangka mengisi hari libur pada perayaan hari Nyepi bagi ummat Hindu, 9 Maret 2016, sekaligus silaturahmi dengan masyarakat pegunungan.
Seluruh rombongan menggunakan kendaraan motor trail dipimpin langsung oleh Bapak H.A.Kaswadi Razak yang memang dikenal hobby mengendarai kendaraan off road. Kebiasaan yang justru memang sangat dibutuhkan untuk menjangkau banyak daerah terisolir seperti halnya kondisi Umpungeng.
"Kami tidak bermalam, setelah mendengar aspirasi masyarakat dan menikmati keindahan alam Desa Umpungeng, rombongan kembali ke Soppeng," kata Andi Darliawan menutup perbincangan sebelum kembali ke Ibu Kota Soppeng. Meski kunjungan Bupati sangat singkat, namun warga tetap memanfaatkannya dengan sangat efektif dan penuh keakraban. Sejumlah kumpulan warga semisal organisasi kepemudaan yang bernaung dibawah Pemerhati Budaya (PEMUDA UMPUNGENG) kelompok Majelis Ta'lim dan para sepuh warga berkumpul di Pintu Gerbang untuk melakukan penyambutan. Tepat puku 15.30 rombongan Bupati tiba di Bobang Riaja (pintu gerbang sebelah Barat). Bupati dan rombongan langsung disambut dengan taburan beras yang bermakna kemakmuran oleh Ibunda Siti Hasanah salah seorang sepuh warga. Selanjutnya Bupati dipersilahkan menggunting kain putih yang sengaja dibentangkan dihadapan pintu gerbang pertanda pembukaan pintu keberkahan. Bupati yang didampingi oleh Kepala Desa Umpungeng Bapak Shalahuddin,SAg. dan kepala Dusun Umpungeng Bapak Wahyuddin langsung menuju Garugae (situs megalitikum) pusat pertemuan yang berupa benteng berbentuk lingkaran Batu. Bupati H.A.Kaswadi terlihat langsung menuju ke sebuah batu yang terdapat tepat di tengah lingkaran Garugae. Dengan nada yang tersengal dan terbatah-batah Bupati yang murah senyum itu memperkenalkan kepada rombongan tempat dia berdiri "kita sudah sampai di titik nol".
    
Semoga kunjungan Pemimpin Baru Soppeng ke titik nol membawa Perubahan Baru ke arah yang lebih baik " from zero to hero".


Senin, 10 Agustus 2015

Energi terbarukan Umpungeng.

Takdir tak dapat ditolak, Anugrah ketetapan Allah SWT menjadkan posisi Umpungeng sebagai titik tengah INDONESIA adalah keniscayaan.Kami bangga dengan para leluhur, yang dengan wawasan dan ingsting kenegarawanan nya, mereka meninggalkan jejak dan symbol peradabannya berupa situs megalitik GARUGA (lingkaran batu) yang dulu menjadi pusat pertemuan / pemersatu (AssisUmpungeng) oleh berbagai suku. Berbagai nama tersemat dalam satu tempat ini antara lain dikenal dengan nama Tanah Ancajingeng, Tanah Rigella, Tanah Boccoe, Tanah Merdeka, Lalabata dan Umpungeng.  Pertanyaan nya adalah siapa gerangan yang membangun tempat ini? Teknologi apa kiranya yang telah digunakan sehingga bisa memperoleh informasi bahwa tempat ini akan menjadi simpul pertengahan suatu Negara bernama Indonesia? Atas dasar apakah sebuah aplikasi map milik google bernama Google earth dapat meletakkan nama INDONESIA persis di posisi tengah peta Indonesia dan bertemu dengan situs megalitik bernama GARUGA?
Itulah energy (semangat) baru dan terbarukan pertama yang dimiliki Umpungeng. Energy yang kedua adalah energy sumber daya alamnya. Terdapat 3 musim dalam satu siklus tahunan di Umpungeng yang masing-masing berlangsung selama 4 bulan yaitu 1. Musim hujan (Wettu Bonge’) 2. Musim Hujan Angin (Wettu Bare’) 3. Musim Kemarau (Wettu Timo). Keadaan alam seperti ini berlangsung sepanjang tahun hingga saat ini. Kondisi ini menyebabkan DR. Ir. Nasruddin seorang Dosen senior dari Fakultas Tehnik Universitas Hasanuddin Makassar tergerak untuk datang survey dan menelity potensi energy yang dapat di hasilkan dari keadaan alam yang demikian uniknya. Hasilnya cukup menggembirakan bahwa ke 3 kondisi alam tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energy baru dan terbarukan yakni air, angin dan matahari, Umpungeng memiliki ketiganya. Ke 3 potensi tersebut yang paling prospek adalah Pembangkit Listrik Tenaga mikro Hydro (PLTMH)“Debit air sungai di Umpungeng sangat bagus dan stabil untuk sebuah pembangkit listrik” ujar sang Dosen Peneliti menyampaikan hasil surveynya.  Sejak diberikannya rekomendasi tersebut, sekelompok anak muda Umpungeng melakukan upaya-upaya untuk memperoleh dukungan baik dari pihak swasta maupun dari pemerintah dalam rangka mewujudkan cita-cita masyarakat untuk mendapatkan listrik penerangan dan penggerak ekonomi rumah tangga. Hingga saat 17 Agustus 2015 ini, belum ada satu usaha pun membuahkan hasil, namun demikian usaha tetap jalan terus dengan segenap kemampuan yang ada.

Usahamencari dukungan yang paling anyar dilakukan oleh para Inisiator adalah penggalangan tanda tangan warga untuk Surat Permohonan bantuan alat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH) untuk tujuan Penerangan dan Industri Rumah tangga dan alat Pembangkit Listrik Tenaga Surya  (PLTS)untuk penerangan lampu jalan yang akan disampaikan kepada Gubernur Sulawesi Selatan melalui  Kepala Dinas Sumber Daya Energy dan Mineral (ESDM) Provinsi Sulawesi Selatan yang ditembuskan kepada Bupati Kepala Daerah Tk.2 Soppeng  tepat pada peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2015. Akankah ini berhasil? Sangat tergantung pada respon pemerintah. Jika usaha ini juga belum membuahkan hasil, berarti kami masyarakat pelosok yang berjumlah kurang lebih 300 kk masih tetap menjalani kebiasaan (takdir) menggunakan lampu penerangan petromak atau lampu teplok (Pajjennangeng) sebagai alat penerangan. Apakah kami berhak untuk menikmati listrik layaknya masyarakat perkotaan? Kami pun tidak tahu, pesan kami untuk para Pemimpin Negeri “jika belum bisa membantu kami, minimal tidak membebani kami”.

Saat ini dengan kemampuan yang tidak seberapa, muncul inisiatif warga untuk membangun pembangkit listrik PLTMH secara swadaya, hanya saja hasilnya tidak maksimal atau lebih tepatnya tidak mampu memenuhi kebutuhan warga meski sekedar penerangan. Sebagian warga membeli mesin jenset dan sebagian lagi menggunakan Listri tenaga Surya,sisanya lampu teplok. Kami pun tidak menyesal dengan keadaan ini. Dibalik kesederhanaan hidup ini pasti ada hikmah, dan hikmah terbesar adalah kami tidak hidup cengeng dan juga tidak bergantung sama siapapun termasuk listrik. Kami hanya bergantung pada sang Pengcipta dan akrab pada alam yang diciptakannya. Kami lebih kaget kalau tidak turun hujan dari pada tidak ada signal seluler, kami lebih prihatin kalau sungai-sungai kami berkurang atau kosong dibanding dengan pulsa seluler kami berkurang atau kosong. Namun jika mendapat peluang menggunakan teknologi maka kami pun berjanji untuk menggunakannya demi kelestarian alam.

Panen Raya Cengkeh, Kami butuh tenaga Pemanen yang banyak.

Desa Umpungeng dikenal sebagai Desa penghasil Cengkeh yang utama di Sulawesi Selatan. Tidak kurang dari 2500 h kebun cengkeh tersebar di kawasan pegunungan Umpungeng yang luas wilayahnya mencapai 85 km persegi. Rata-rata penduduk memiliki lahan minimal 1 h kebun cengkeh dengan kapasitas produksi minimal 3 ton cengkeh kering pertahun. Waktu panen terbagi dalam dua masa yakni untuk dataran rendah berkisar bulan Juni- Agustus dan untuk daerah dataran tinggi berkisar bulan September – November. Untuk menghindari paneng terlambat yang akan berakibat pada menuanya buah, dibutuhkan tenaga Pemetik minimal 10 orang per hektar dengan kemampuan petik rata-rata 30 liter perhari plus tangkai.

Untuk anda yang berminat ambil bagian dalam setiap musim panen cengkeh. Jangan hawatir karena panen cengkeh jauh lebih muda dibanding dengan panen padi dan panen buah-buahan lainnya.

Ada beberapa keuntungan yang akan di peroleh antara lain:
1.      Gaji perkilogram (cengkeh + tangkai) antara Rp.3.000 s.d. 3.500 perliter cengkeh mentah.
2.       Makan + Koffee 3 kali sehari
3.       Free akomodasi / tempat tinggal
4.       Bonus jika melebihi target
5.       Cuaca sejuk dan dingin

Beberapa persiapan yang harus dilakukan  antara lain:
1.Persiapan mental, ada dua persiapan mental yang utama yang harus dimiliki pertama kejujuran mutlak dimiliki karena anda akan diberi kepercayaan untuk memetik dan mengelolahnya hingga bersih untuk di timbang/ditakar pada tempat yang terpisah. Kedua adalah mental keberanian memanjat harus ada, mengingat ketinggian pohon cengkeh rata-rata 10 s.d 15 m menggunakan tangga satu bambu.

2.Persiapan alat, beberapa alat yang dibutuhkan selama menjalankan aktivitas panen antara lain:

1).Peralatan utama yakni Tangga Bambu, Tali pengaman tangga dan keranjang buah sudah disiapkan oleh pemilik kebun. Tugas anda hanya memasan dan atau memindahkan tangga.
2).Sefty belt / alat pengaman manjat bisa terbuat dari sarung biasa atau menggunakan alat khusus tali pengaman panjat pohon yang banyak dijual di took-toko home appliance.
3).Alat-alat makan dan minum, Pemilik kebun hanya menyediakan makan dan minum dan tidak menyediakan wadah untuk bawa bekal ke kebun, untuk itu anda perlu mempersiapkan tempat makan dan minum sendiri.
4).Jika anda terbiasa menggunakan alat bantu untuk panen buah, maka anda disarankan untuk membawa peralatan yang cocok untuk kebutuhan anda sendiri.
5).Siapkan mantel atau alat pelindung hujan yang praktis dan simple untuk antisipasi turun hujan.

3.Kebutuhan khusus
1).Jika anda mengidap penyakit tertentu silahkan anda membawa obat khusus sesuai yang direkomendasikan oleh dokter anda.
2).Jika anda seorang menggemar music, anda pun boleh membawa gadget yang dilengkapi dengan powerband dan earphone milik anda untuk hiburan anda sembari memetik buah cengkeh diatas pohon. Namun jangan lupa bawa pengaman dan pelindung hujan jikalau terjadi suatu waktu hujan.
3).Jika anda seorang perindu Syurga, anda dapat memanfaatkan waktu diam anda untuk ber-Zikir (mengingat Allah sebanyak-banyaknya), atau membawa mp3 atau gadget yang berisi Al Qur’an, Al Haditz atau rekaman cerama-ceramah agama yang tematik untuk menambah-nambah ilmu dan wawasan anda. Dan ingat jika anda memulai dengan NIAT yang baik maka aktivitas panen cengkeh anda akan bernilai IBADAH + dapat Ilmu + dapat Uang.
Jika anda berminat bergabung, hubungi kami di nomor contact us, caranya kirim SMS (berisi: Nama, Alamat lengkap) kami akan persiapkan kedatangan ANDA dengan baik.

Minggu, 09 Agustus 2015

Pembentukan Kelompok Tani AssisUmpungeng

Ibarat ibu hamil, beberapa kali usaha untuk melahirkan bayi bernama Kelompok Tani di dusun Umpungeng, namun selalu gagal. Alasan(nya) tidak boleh ada kelompok tani di kawasan hutan lindung. Entah dari mana dasar kebijakan ini dan jika ada dasar hukum maka bagaimana sesungguhnya teknis penerapannya di desa yang luasnya seperti Desa Umpungeng ini. Siapa yang seharusnya berhak untuk menjelaskan hal ini. Sebanyak 3 Dusun yang sesungguhnya bepotensi terbentuknya satu Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) selama ini terabaikan. Alasan tidak diakomodirnya karena berada di kawasan hutan lindung titik.
Suatu hari seorang Koordinator Penyuluh pertanian dari Kementrian Pertanian bidan pengkajian & penerapan teknologi Provinsi Sulawesi Selatan Bapak Ir. Ahyar berkunjung ke Umpungeng untuk melakukan penyuluhan pertanian secara pribadi kepada warga Dusun Umpungeng.Beliau sempat menanyakan prihal kunjungan Petugas Penyuluh Pertanian ke dusun ini, namun warga justru balik bertanya “apakah ada memang orang yang ditugaskan oleh Negara untuk mengajari / membimbing  petani seperti kita?”. Ini sangat ironi, ditengah upayah pemerintah meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani, justru para petugas penyuluh pertanian tidak menunaikan tugasnya secara maksimal. Jika memang kawasan ini (Umpungeng) tidak layak dibentuk Kelompok Tani karena alasan tertentu, bukankah ini juga bagian dari tugas utama aparat pemerintah / Penyuluh Pertanian untuk menjelaskan ke para Petani tentang hal ini? Bukan kah mendiamkan sama dengan membiarkan petani kita hancur dengan sendirinya?
Sebuah kunjungan kehormatan dari seorang Anggota DPRD Kab.Soppeng memberi energy dan semangat baru akan kemungkinan terbentuknya beberapa Kelompok Tani di Dusun Umpungeng. “Bentuk saja beberapa kelompok tani di Dusun Umpungeng, Bulu Batu dan Liangeng, nanti saya yang akan mengurusnya” demikian anjuran Bapak Asmawi, Sekertaris DPRD Kabupaten Soppeng menyemangati para petani. Segera saja seruan itu ditindak lanjuti dan Alhamdulillah lahirlah satu Kelompok Tani bernama Kelompok Tani AssisUmpungeng. Sejumlah Kelompok Tani akan segera menyusul terbentuk. Semangat para petani untuk segera menata pertanian yang selama ini menjadi sumber utama pencaharian warga terrefleksi dari usaha beberapa inisiator untuk segera sosialisasi program dan rencana kerja ke seluruh warga.“Dengan keterlambatan kita membentuk kelompok berarti kita harus mengejar ketertinggalan kita dalam hal ilmu, serta wawasan dan teknik pengorganisasian petani kita kepada daerah yang sudah lebih maju dari kita” ungkap salah seorang anggota.
Pasca terbentuk nya beberapa kelompok maka, langka selanjutnya melakukan pertemuan-pertemuan secara intensif dengan Anggota, dan yang lebih penting adalah kesiapan kelompok untuk menginplementasikan setiap kebijakan pemerintah dalam aktivitas pertanian kita. Melalui wadah ini pula kita mendapatkan perhatian dari pemerintah berupa perlindungan, subsidi dan fasilitas Negara lainnya untuk perbaikan tatanan kehidupan kita. Setiap anggota berkepentingan terhadap organisasi ini, maka wjib bagi setiap anggota untuk menjaga kelangsungan organisasi yang bernama Kelompok Tani.

Mulai saat ini para petani Umpungeng berhak untuk bercita-cita menjadi petani yang sukses dan bermartabak sejajar dengan para petani maju lainnya di belahan dunia manapun. Allah telah mengkaruniakan kepada Desa Umpungeng lahan pertanian yang subur dan makmur, udara yang sejuk, air yang melimpah. Patut dijaga dan disyukuri agar keberkahan langit dan bumi semakin bertambah dan bertambah. Wujud syukur dapat berupa zakat dan sedekah hasil pertanian, menanam pohon agar hutan tetap lestari, tidak membuang sampah pelastik di tanah, membiayai sekolah anakkandung atau anak yatim dan yang paling fundamental adalah mendirikan Sholat. 

Sabtu, 08 Agustus 2015

KUNJUNGAN KOMUNITAS BUDAYA REAKSI KAB. MAROS

Sekelompok anak muda yang menamakan diri Komunitas Budaya Reaksi Maros melakukan kunjungan silaturrahiim dan study kebudayaan di Umpungeng tanggal 7-8 Agustus 2015. Kunjungan kebudayaan ini rutin diadakan di beberapa daerah bersejarah di Indonesia, namun kunjungannya ke Umpungeng kali ini merupakan yang pertama kalinya. Satu persatu tokoh masyarakat di kunjungi, mulai dari Kepala Dusun, Ketua Adat, Tokoh Agama dan Tokoh Pemuda. 

“Tujuan dari kunjungan ini adalah mengenal lebih dekat kampung yang pernah menjadi pusat kebudayaan (AssisUmpungeng budaya), tempat persembunyian Arung Palakka dari kejaran Penjajah Hindia Belanda dan Posina Tanae. Namun tujuan utama kunjungan ini adalah untuk mengobati rasa penasaran atas informasi yang didapat dari teknologi internet bahwa Umpungeng merupakan titik tengah Indonesia. 

“Perjalanan yang cukup melelahkan namun terbayar dengan menginjakkan kaki di sini (GARUGAE) di titik tengah INDONESIA” ungkap Zilmi Ketua rombongan ekspedisi budaya   Maros tersebut. Selain Kunjungan silaturahiim rombongan yang terdiri atas 16 orang ini juga menyerahkan plakat berisi ungkapan terima kasih atas penerimaan warga serta menyerahkan sejumlah Buku Antologi Puisi karya sanggar seni Maros. 

Sudirman selaku warga dan atas nama tuang rumah menyampaikan terima kasih atas kunjungan tersebut dan berharap kelak pemuda Umpungeng dapat membuat kunjungan balasan sehingga dapat terjadi sharing budaya antar Umpungeng dan Maros sebagai daerah yang sudah lebih maju di bidang Pariwisata Budaya dan Seni. Kunjungan silaturrahiim diakhiri dengan suguhan salah satu minuman herbal hasil olahan warga dari tumbuh-tumbuhan disekitar Umpungeng yang sudah terbukti khasiatnya bagi kesehatan warga. Ramuan herbal ini disajikan dalam kondisi air hangat tawar. Namun diantara rombongan ada yang menambahkannya dengan gula maka jadilah Teh hangat khas dan ada juga yang menambahkan gula + Kopi maka jadilah Kopi herbal rasa khas yang nikmat. Penasaran …? Datang dan nikmati sendiri.

Welcome Home Mr.Asmawi

Datang tepat pada waktu yang tepat, disaat kami merindukan sosok yang memiliki hubungan lebih dari sekedar siSoppengeng, Sillalabata namun sangat intim sebagai Sisumpungeng. Sudah lama kami mendengar kabar tentang nya, tentang sepak terjangnya, tentang kedermawanan nya, tentang keberaniannya membela yang hak, tentang keberpihakan nya pada yang lemah, tentang karakter kepemimpinan nya, tentang karya gemilang nya dalam bidang pertanian, tentang wawasan kepemimpinan nya bahkan tentang baktinya pada kedua orang tua nya. Namanya Asmawi, Kini hadir ditengah keluarga sisUmpungeng loloe yang tidak lain adalah keluarga besarnya sendiri. Ia lahir dari pasangan Bapak Sumangedengan Ibu Hadirin di dusun Jampu-Jampu, Desa Timusu, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng.

Kedatangannya dinanti, ketiadaanya dirindu” demikian antusiasme keluarga sUmpung loloe menyambut kedatangan rombongan keluarga nya menunjukkan Ikatan emosional dengan warga sangat kuat, menyatu dalam suka cita, tersenyum menyapa dengan tatap mata kerinduan dan keakraban.

Ditengah sambutan yang penuh antusias di siang hari Ahad tanggal 9 Agustus 2015 ini, dia tampak energik dan sigap menyapa setiap jabat tangan dan salam yang disampaikan secara bergilir. Dia tampak menikmati sapaan –sapaan lugu para warga. Sangat jelas darah pedalaman Umpungeng nya mengalir kuat pada dirinya. Tidak sedikit pun canggung menghadapi prilaku orang-orang yang kesehariannya bergaul dengan monyet hutan ini. Meski pengalaman keliling beberapa Negara Asia dan Eropa telah ia dapatkan namun kehangatan dan keakraban nya dengan seluruh kuluarga yang menyambutnya menjadi pemandangan yang sungguh menakjubkan.

Oh iya, ada hal yang saya lupa tentang sosok laki-laki ini, dia adalah seorang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah? Apakah ini kampanye?Saat ini adalah masa kampanye suksesi kepemimpinan Kabupaten Soppeng. Siapa gerangan yang didukung di antara 3 pasangan calon Bupati?  Apakah warga ini sebelumnya sudah diatur sedemikian  rupa scenario penyambutannya sehingga tampak meriah seperti saat ini? Atau jangan-jangan warga sudah terlebih dahulu menerima angpao politik dari beliau?. Hmmm, tapi firasatku sungguh berbeda, sepanjang obrolan  dengannya tidak sedikit pun menyinggung masalah suksesi kepemimpinan itu. Beliau justru banyak berbicara masalah keindahan alam Umpungeng yang melebihikeindahan alam yang dimiliki oleh beberapa negara tujuan wisata dunia saat ini, “hanya saja mereka didukung fasilitas yang canggih”. Dalam acara Wenni Tudang Sipulung yang diadakannya, beliau lebih banyak berbicara tentang potensi sumber daya alam Umpungeng yang berpotensi sebagai sumber devisa yang luar biasa besar.

Kecurigaan ku segera terjawab setelah menyimak pembicaraannya, ini hanya kilasan pemikiran kerdilku yang sudah banyak terkontaminasi oleh prilaku licik para politikus nusantara yang haus kekuasaan dan menjadikan uang sebagai tujuan utama, sehingga  tidak lagi memiliki semangat memperbaiki kampung halamannya.

Pemandangan hari ini berbeda, rombongan keluarga ini datang ke Umpungeng layaknya keluarga-keluarga Umpungeng lainnya yang sudah berdomisili dan beranak pinak di luar sana. Mereka kembali ke tanah AssisUmpungeng untuk memanjatkan doa syukuran sebagai pertanda kehidupannya semakin baik dan semakin sejahtera. Tradisi Do’a sukuran di tanah Accajingeng / tanah assisUmpungeng oleh sanak keluarga dari berbagai profesi ini berlansung sepanjang tahun.Mereka yang petani biasanya menyelenggarakan acara do’a syukuran sehabis panen, bagi wira usahawan biasanya do’a syukuran diselenggarakan pasca hari raya lebaran dan bagi para pegawai biasanya diselenggarakan paska promosi jabatan atau menjadi seseorang yang sesuai dengan yang dicita-citakan.

Ditengah acara Tudang Sipulung yang digelar oleh keluarga besar Anggota Dewan termuda Indonesia itu, para warga berkerumun ingin mendengar apa saja yang di sampaikan olehnya. Beberapa diantaranya mengajukan pertanyaan yang selama ini belum terjawab. Meski sekedar didengarkan, kelihatannya para warga cukup puas dan sangat antusias menumpahkan uneg-uneg kepada nya.  Sekali lagi watak kepemimpinan diuji, beliau menjawab setiap pertanyaan dengan arif dan bijaksana,sesekali diselingi dengan humor ringan membuat suasana semakin cair. Beberapa pertanyaan yang mengemuka antara lain “kenapa bupati tidak pernah menginjakkan kaki di Umpungeng? mengapa guru-guru SDN 11 Umpungeng jarang datang mengajar?, mengapa penyuluh pertanian & penyuluh kesehatan tidak pernah datang? Mengapa kami tidak boleh membentuk kelompok tani? Mengapa jalanan kami tidak pernah diperhatikan? Dan banyak lagi pertanyaan yang membuat obrolan nyerempet kemana-mana. Setelah usai obrolan, beliau memberi sebuah jawaban kongklusi dengan menyerahkan secara simbolis 2500 pohon bibit Pala, seolah ingin mengatakan bahwa cara terbaik untuk menjawab semua polemik yang ada adalah tidakan (action). 

Senin, 03 Agustus 2015

DANA DESA RP 9,1 T CAIR MULAI APRIL

Janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menggelontorkan dana Rp 1,4 miliar per desa segera terwujud di kuartal pertama 2015. Untuk tahap pertama, pada April tahun depan akan dikucurkan dana Rp 9,1 triliun untuk desa-desa yang sudah dinyatakan siap.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes) Marwan Jafar mengatakan, saat ini sebagian besar desa sedang menyusun rencana program kegiatan. Kemendes saat ini tengah melakukan supervisi terhadap desa-desa tersebut.

"Karena itu hampir setiap hari saya blusukan ke desa-desa menemui para kades untuk mengecek kesiapan mereka," kata Marwan di sela-sela acara Munas Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (IKA-UII) di Bandarlampung, Jumat(5/12).

Sebulan menjadi menteri, Marwan sudah mendatangi lebih dari seratus desa. Kemarin misalnya, Marwan juga mengunjungi Desa Sriwedari, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung.

Rencana program kegiatan desa tersebut, kata Marwan, harus sesuai dengan kebutuhan masing-masing desa. Desa yang sampai April tidak memiliki rencana program kegiatan yang matang dipastikan akan dipending pengucuran dananya. Kemendes berhak memverifikasi kesiapan 73 ribu desa tersebut."Nanti setiap desa tidak langsung menerima Rp 1,4 miliar. Bertahap," kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia itu.

Yang tidak kalah penting, kata Marwan, adalah menyiapkan perangkat desa agar bisa mengelola keuangan secara transparan dan akuntabel. Sebab, pengelolaan dana miliaran rupiah itu sangat rawan manipulasi. "Saya selalu wanti-wanti kepala desa agar jangan sampai masuk bui gara-gara salah mengelola dana desa," kata politikus PKB itu.

Dalam pelaksanaan program dana desa yang dicanangkan Jokowi itu, kemendes bekerjasama dengan kemendagri. Sebab, secara struktur pemerintahan, desa berada di bawah kemendagri. Namun bagi Marwan, kesuksesan program tersebut menjadi pertaruhan bagi Kemendes. Kalau ada yang tidak beres, lanjut Marwan, pasti yang disalahkan kemendes. "Sebab nomenklatur kementerian yang saya pimpin ada kata desa," ujar Marwan. "Publik tahunya itu murni tanggung jawab kemendes," imbuhnya.

Meski demikian, Marwan optimistis program tersebut akan berjalan lancar. Sebab dari laporan yang masuk ke mejanya, rata-rata aparatur desa sangat serius menyiapkan program. Tingkat kesiapan desa diperkirakan Marwan sudah lebih dsri 50 persen. (tom/sof)
Sumber: http://www.jpnn.com/read/2014/12/06/273937/Dana-Desa-Rp-9,1-T-Cair-Mulai-April-, Sabtu, 6 Desember 2014.


Minggu, 26 Juli 2015

Kunjungan Pengusaha Muda asal Kalimantan Tengah Balik Papan,

From dial to deal” sebuah ungkapan bijak untuk menggabarkan aktivitas seorang pengusaha yang dinamis dan productive . Hal ini sangat tepat jika disematkan kepada dua orang tamu khusus Umpungeng yang datang dari Balikpapan. Awalnya komunikasi terjalin via telephone lewat penghubung seorang relasi di Jakarta, Alhamdulillah komunikasi berlanjut, kami sampaikan   informasi potensi sumber daya alam Desa Umpungeng kepadanya baik lisan maupun lewat official blog di http://desaumpungeng.blogspot.com. Dalam waktu yang singkat kedua pengusaha travel ini memutuskan untuk berkunjung ke Umpungeng. Kunjungan silaturrahiim ini bertujuan untuk melihat langsung potensi sumber daya alam yang ada di Desa Umpungeng. Kunjungan selama 3 hari (tanggal 25-27 Juli 2015) rasanya terlalu singkat. Maka dengan usaha yang sungguh-sungguh maka kunjungan singkat tersebut dapat diefektifkan dan dimaksimalkan dengan baik. Meski dalam keadaan berpuasa Ramadhan, semangat untuk  mengunjungi sentra-sentra hasil bumi tidaklah surut, mulai dari Silaturrahiim dengan salah seorang Pedagang beras Desa Palakka, Kab.Barru, Pengusaha Gula Areng dan Keluwak Desa Umpungeng, Petani Jahe Gaja di Desa Timusu Kab.Soppeng dan kunjungan ke pengrajin Gula areng Dusun Umpungeng.

Kunjungan ke beberapa lokasi tersebut menyebabkan rencana untuk masuk ke Umpungeng pada jam 15.00 akhirnya mundur hingga jam 18.30 wib. Perjalanan dimalam hari ke Umpungeng merupakan tantangan terberat dan sangat menguji kesabaran sekaligus nyali perjuangan setiap pengunjung. Selain medan jalan yang demikian berat membela malam di tengah hutan tak berpenghuni tanpa penerangan lampu jalan berpuluh-puluh kilometer, adalah tantangan riil yang harus dilalui. Bersyukur bahwa tamu kali ini memiliki pengalaman juang yang cukup. 

Sesuai rencana, dua orang Ustaz yang merupakan pengusaha muda ini akan kami daulat menyampaikan ceramah ba’da sholat tarawih di Masjid Jabal Nur Umpungeng. Namun karena terlambat  tiba di Umpungeng, maka esok hari ba’da sholat subuh  barulah salah seorang diantara mereka kami daulat untuk memberi tauziyah. Pagi hari mereka berdua diajak keliling-keliling kampung dan berkesempatan berdiskusi –diskusi ringan di dalam Situs Megalitik Garugae yang merupakan titik tengah Indonesia. Semoga obrolan ringan tersebut dapat menjadi titik temu untuk sebuah usaha yang diberkahi dan berkelimpahan. Sebelum keduanya meninggalkan Umpungeng, mereka berkesempatan untuk mengunjungi langsung salah satu tempat pengolahan gula areng Umpungeng. “Sayang kunjungannya Bapak tidak dapat menikmati manisnya tuak Umpungeng karena datang pada bulan puasa” sapa Bapak Sinardin seorang Pengrajin Gula Areng umpungeng. Pada kesempatan ini kedua tamu special ini membeli langsung gula merah ke pengrajin untuk dibawa pulang ke Balikpapan. Sebelum pamit, mereka berjanji akan balik lagi ke Umpungeng pada waktu yang tepat, bahkan jika diperlukan akan bersama tim Assatiz dari Balikpapan untuk kegiatan Da’wah dan kegiatan yang bersifat sosial lainnya seperti idhul Qurban. Semoga panjang umur, banyak rezeki, dan sehat wal afiiat hingga bertemu kembali. Amin

Sabtu, 25 Juli 2015

Kunjungan Rihlah Tim Azzatis Wahdah Islamiyyah Makassar

Sejak warga Umpungeng mengenal pendidikan, para keluarga muda mendorong putra-putrinya untuk menuntut ilmu meski harus keluar kampung. Bahkan tak jaran keluar kabupaten demi memperoleh pendidikan tingkat menengah lanjutan. Diantara mereka ada yang diarahkan ke pendidikan yang berorientasi pada agama islam. Diantara yang melanjutkan ke pendidikan agama, ada yang secara khusus belajar pendidikan agama di salahsatu pondok pesantren swasta yang berlokasi di kabupaten tetangga yakni kabupaten Wajo yang berjarak 50 km sebelah timur Umpungeng.

Sejumlah alumni asal Umpungeng telah sukses menammatkan pendidikan di pesantren yang pernah dipimpin oleh KH.Yunus Maratan ini. Ada sebuah tradisi yang berlaku secara tahunan di pesantren ini khususnya pada bulan suci Ramadhan. Para santri akan ditempatkan di berbagai daerah sebagai petugas Imam Sholat Tarawih dan khutbah / ceramah selama bulan suci Ramadhan. Pada saat selesai tugas pasca Idul fitri para ustaz /ah tidak pulang ke Pondok Pesantren dimana mereka diberangkatkan melainkan akan pulang ke kampung halaman masing-masing.  Biasanya setiap Ustaz akan diantar oleh sejumlah warga jamaah dimana mereka bertugas menuju rumah tempat tinggal para uztas. Disini para pengantar akan menyerahkan kepada pihak keluarga sejumlah uang beserta barang-barang lainnya kepada pihak keluarga Ustaz sebagai honor selama bertugas sebagai Imam tarawih  atau ceramah Ramadhan dan akan disaksikan oleh dua pihak yang hadir.  Terkadang rombongan pengantar dalam jumlah besar mulai dari anak-anak hingga kake nenek.

Tradisi “mangantara Ustaz /Guru” ini seringterjadi pada beberapa orang santri asal Umpungeng yang keluar sebagai petugas Ramadhan dan pulang ke Umpungeng pasca Ramadhan ditemani oleh sejumlah jamaah. Seru? Ya seruuu! Bagaimana tidak, lokasi Umpungeng yang jauhnya kurang dari sejengkal kita bisa sampai keakhirat itu dan ketinggiannya tinggal tambahkan Rp.1000 ongkos ojeg kita sudah bisa sampai di langit itu membuat para pengantar Ustaz shock dan terkaget-kaget. Banyak diantara mereka akhirnya mundur teratur dan membatalkan kunjungan setelah berada dipertengahan jalan. Hanya mereka yang memiliki mental dan nyali yang teruji yang bisa sampai ke rumah ustaz.

Hari ini keadaan terbalik, yang biasanyasatu orang Ustaz diantar oleh puluhan murid atau jamaah, kali ini satu orang murid diantar oleh puluhan Ustaz yang tidak lain adalah tim Assatiz dari Wahdah Islamiyah Makassar. Meski sebenarnya  tujuan utamanya bukan untuk mengantar murid namun paling tidak kunjungan rihlah kali ini sekaligus sebagai tahap familiarisasi medan da’wah yang selama ini kurang tersentuh oleh nilai-nilai agama.Kunjungan para ustaz telah memberi pengalaman yang luarbiasa mengesankan diantara kedua belah pihak (warga dan para Ustaz).

Perjuangan para ustaz mengendarai kendaraan bermotor plus membonceng teman-teman sendiri bahkan sebagian sempat numpang sama truk pasir merupakan bukti kongkrit betapa gigih dan semangatnya dalam mengembang misi da’wah hingga ke plosok negeri dengan medan yang sungguh berat dan berpotensi menciutkan nyali seperti Umpungeng ini. Rombongan merupakan para professional yang terdiri atas berbagai bidang profesi dan masing-masing pernah bermukim di beberapa negara maju seperti Jepang, Amerika dan Dubai itu tidak saja berkorban waktu, tenaga dan uang tapi juga mereka berani  mempertaruhkan nyawa di medan jalan terjal yang lebih tepat kalau disebut jalan setapak itu. Meski kondisi fisik demikian lelah oleh ujlak ajlukan kendaraan, namu setibahnya di Umpungeng tidak meyurutkan semangat untuk berjamaah dan ta’lim bersama di masjid sederhana yang sedang dalam renovasi yakni Masjid Jabal Nur Umpungeng. Ustaz Sobaruddin selaku Amir dalam expedisi ini tampil memberi ceramah ta’lim ba’da sholat Magrib hingga waktu sholat isya.

Acara Tanya jawab di lanjutkan pada dini hari ba’da sholat subuh dipandu oleh Pegurus Masjid  dengan dua Ustaz panelis yaitu Ustaz Sobaruddin dan Ustaz Arif. Format penyampaian ceramah yang dimoderasi, santai dan communicative seperti ini kelihatannya lebih mudah diterima dan lebih cepat penyesuaiannya oleh warga. Terdapat 4 masjid di 4 dusun sekawasan Umpungeng yang kondisi sosial masyarakatnya sama, sama-sama jarang tersentuh oleh da’wah dan nilai-nilai agama. Kehadiran tim Azzatis kali ini diharapkan bisa memberi inspirasi baru tentang bagaimana pendekatan da’wah yang tepat dan efektiv dimasyarakat, khususnya kawasan pegunungan seperti Umpungeng.  Karena kondisi atap masjid dalam keadaan terbuka alias beratapkan langit, antusiasme jamaah dalam forum tanyak jawab ini harus berakhir cepat akibat dariguyuran hujan.Jamaah sholat subuh termasuk tim Azzatis berhamburan keluar masjid sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Harapan kami selaku warga semoga kunjungan pertama para Ustaz bukanlah kunjungan terakhir, bahkan sebaliknya sebagai awal misi da’wah menuju cita-cita masyarakat sejahtera lahir dan batin, makmur dalam penghidupan penuh keimanan dan ketakwaan. Semoga saja pengalaman expedisi ke Umpungeng menjadi ibroh dan amal jariyyah. Amin.

Minggu, 26 April 2015

Baru 28 Kabupaten Penuhi Syarat Terima Dana Desa?

Bagi Desa Umpungeng itu tidak masalah, bahkan kalau perlu 2 Kabupaten saja yang memenuhi syarat bagi kami sudah cukup yang penting Kabupaten Soppeng ada didalamnya.  Yang menghawatirkan kalau jumlah Kabupaten yang memenuhi syarat sudah mencapai 409 Kabupaten yang berarti sisa satu Kabupaten yang belum Masuk dan itu ternyata Kabupaten Soppeng. Untuk memperoleh informasi tentang Distribusi dana desa, berikut kami sajikan informasi dari harian kompas.com.
  
Distribusi dana desa yang seharusnya dimulai April ini masih terkendala. Hingga kini, dana desa baru bisa didistribusikan ke 28 kabupaten. Pemerintah belum bersedia mencairkan dana desa karena mayoritas daerah belum dapat memenuhi persyaratan untuk pencairan dana desa.

"Dari seluruh Indonesia baru 28 kabupaten yang siap untuk April ini," kata anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat, Budiman Sudjatmiko, saat dihubungi, Minggu (19/4).

Menurut Budiman, seharusnya dana desa sudah didistribusikan ke semua desa di Indonesia April ini. Sebab, dana desa Rp 20,7 triliun sudah dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015.

Pada rapat kerja dengan Komisi II DPR, pekan lalu, Direktur Dana Perimbangan Direktorat Jenderal Perimbangan Kementerian Keuangan Rukijo memaparkan, pemerintah sudah mendistribusikan dana Rp 204 miliar untuk desa. Dana itu ditransfer ke rekening 21 bupati untuk kemudian diserahkan kepada kepala desa. Pemerintah juga tengah menyiapkan distribusi dana desa ke tujuh kabupaten lain. Besarnya sekitar Rp 300 miliar.

Rukijo menjelaskan, dana desa baru didistribusikan ke 28 kabupaten karena baru desa-desa di kabupaten itulah yang memenuhi persyaratan, yakni dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan memiliki peraturan bupati/wali kota yang mengatur tentang pembagian dana desa. Sementara peraturan pembagian dana desa baru bisa disusun setelah semua kepala desa menyerahkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.

Komitmen dipertanyakan

Laporan pemerintah yang menyatakan dana desa baru bisa didistribusikan ke 28 kabupaten itu mengundang tanggapan. Komitmen pemerintah terhadap pembangunan desa dipertanyakan. "Ini mengejutkan karena baru 28 kabupaten yang siap mendistribusikan dana desa," kata Ketua Komite I Dewan Perwakilan Daerah Ahmad Muqowam.

Jumlah tersebut baru sekitar 7 persen dari total kabupaten di Indonesia, yakni 410 kabupaten. "Kalau tataran kabupaten saja persentasenya kecil, bagaimana kesiapan desa? Tentu persentase desa yang sudah siap lebih kecil," ujar Ahmad yang juga Ketua Panitia Khusus RUU Desa DPR 2009-2014.

Budiman menilai kementerian dan pemerintah daerah belum siap mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Masih banyak peraturan yang tak selaras dengan UU Desa, di antaranya Peraturan Pemerintah (PP) No 43/ 2014 tentang Peraturan Pelaksana UU Desa dan PP No 60/2014 tentang Keuangan Desa.

Panitia Kerja Desa Komisi II DPR, mulai Senin (20/4) ini, akan menggelar rapat konsinyering dengan Kementerian Dalam Negeri serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Rapat akan membahas masalah implementasi UU Desa, khususnya tentang distribusi dana desa.

http://print.kompas.com/baca/2015/04/20/Distribusi-Baru-untuk-28-Kabupaten

TESTIMONI PENGUNJUNG

Laporan per 24/7/2015 = Rp. 64.029.000,

1.Sapiah Cempeng (Luwu Utara) Rp.200.000,-

2.Hj. A.Wati (Gattareng)Rp.500.000,-

3.Jafardin Sale(Annukkanung)Rp.300.000,-

4.Tanpa Nama(Soppeng)Rp.100.000,-

5.Daebu (Umpungeng)Rp.50.000,-

6.Ratnawati (Umpungeng)Rp.500.000,-

7.Nurtan Mandang (Umpungeng)Rp.500.000,-

8.Alm. La Demma (Umpungeng)Rp.20.000,-

9.AlmH. I Lisu (Umpungeng)Rp.20.000,-

10.Alm. Mandang(Umpungeng)Rp.20.000,-

11.AlmH. I Nalang(Umpungeng)Rp.20.000,-

12.M. Irsyad Fitra(Umpungeng)Rp.20.000,-

13.Muslimin (Tanjongnge) Rp.100.000,-

14.Kasmawati(Gattareng)Rp.100.000,-

15.Upriadi(Umpungeng)Rp.50.000,-

16.Sose(Umpungeng)Rp.500.000,-

17.Arifin Kando(Umpungeng)Rp.1.000.000,-

18.Marewangeng (Umpungeng)Rp.500.000,-

19.Hadenna (Umpungeng)Rp.1.000.000,-

20.Ismail Hade (Umpungeng)Rp.1.000.000,-

21.A.Aris (Jolle)Rp.500.000,-

22.Ruslan (Makassar)Rp.200.000,-

23.Kamaruddin (Umpungeng)Rp.1.000.000,-

24.Saddu (Umpungeng)Rp.500.000,-

25.Marsuniati(Umpungeng)Rp.20.000,-

26.I Sitti (Umpungeng)Rp.20.000,-

27.Wardi Bune (Umpungeng)Rp.500.000,-

28.Gonre (Umpungeng)Rp.1.000.000,-

29.Abd. Najid (Umpungeng)Rp.500.000,-

30.Alm. La Kaja (Umpungeng)Rp.20.000,-

31.Abd Rahman (Umpungeng)Rp.20.000,-

32.Sittiha(Umpungeng)Rp.20.000,-

33.Sitti Hasanah (Umpungeng)Rp.20.000,-

34.Sabenna (Umpungeng)Rp.50.000,-

35.Nurtan (Umpungeng)Rp.150.000,-

36.Baharuddin Junaide (Umpungeng)Rp.100.000,-

37.Sukmawati (Umpungeng)Rp.500.000,-

38.Firman (Bulu Batu)Rp.500.000,-

39.Alm.M.Adnan Da'wa (Umpungeng)Rp.20.000,-

40.Alm.Dalma (Umpungeng)Rp.20.000,-

41.Alm.Ma'ruf (Umpungeng)Rp.20.000,-

42.Alm.Lapenno (Umpungeng)Rp.20.000,-

43.Alm.Saleng (Umpungeng)Rp.20.000,-

44.AlmH.Ikadu (Umpungeng)Rp.20.000,-

45.AlmH.Isittiri (Umpungeng)Rp.20.000,-

46.Alm. Mahmud (Umpungeng)Rp.20.000,-

47.Alm. M.Nur Penno (Umpungeng)Rp.20.000,-

48.Tanpa Nama (Umpungeng)Rp.50.000,-

49.Wardihan (Umpungeng)Rp.500.000,-

50.Alm.Bune & AlmH.Nungka(Umpungeng)Rp.11.000.000,-

51.Tanpa Nama(Umpungeng)Rp.10.000,-

52.Hamsani (Jolle)Rp.100.000,-

53.Hadera (Jolle)Rp.100.000,-

54.Alm Ikadi (Umpungeng)Rp.20.000,-

55.Alm.Maradang (Umpungeng)Rp.20.000,-

56.Nurul Fuadi (Bone)Rp.50.000,-

57.Fariz Fitra Maulana (Bone)Rp.50.000,-

58.St.Radhiyah Fitri(Umpungeng)Rp.100.000,-

59.St.Nurfatihah Khairah(Umpungeng)Rp.100.000,-

60.Muh. Riyadhi Fitra(Umpungeng)Rp.100.000,-

61.Muh. Wildi Khairil(Umpungeng)Rp.100.000,-

62.AlmH. Sittri(Umpungeng)Rp.50.000,-

63..AlmH. Mariaming(Umpungeng)Rp.50.000,-

64.Alm. Saleng(Umpungeng)Rp.50.000,-

65.Alm. Padlan(Umpungeng)Rp.50.000,-

66.Umar Padlan (Umpungeng)Rp.50.000,-

67.Baderiah(Umpungeng)Rp.50.000,-

68.Alm. Kaja (Umpungeng)Rp.20.000,-

69.Nurdin Kenni(Umpungeng)Rp.500.000,-

70.Alm. Mallongi(Umpungeng)Rp.50.000,-

71.AlmH. Nurmatang(Umpungeng)Rp.50.000,-

72.Alm.Muh.Rafi(Umpungeng)Rp.50.000,-

73.Kubba (Umpungeng)Rp.25.000,-

74.Naidah Kade(Umpungeng)Rp.50.000,-

75.Hamba Allah(Umpungeng)Rp.50.000,-

76.Tanpa Nama(Umpungeng)Rp.20.000,-

77.Tanpa Nama(Umpungeng)Rp.100.000,-

78.Jafardin (Annukkannung)Rp.500.000,-

79.Samsam (Umpungeng)Rp.50.000,-

80.Alm. Sale(Umpungeng)Rp.50.000,-

81.Alm. Sale(Umpungeng)Rp.50.000,-

82.Arifin Kel.(Umpungeng)Rp.200.000,-

83.AlmH. I Masse(Umpungeng)Rp.50.000,-

84.Minasa(Umpungeng)Rp.50.000,-

85.Masnawati(Umpungeng)Rp.50.000,-

86.Mus'ing,S.Ag,M.Ag(Umpungeng)Rp.750.000,-

87.AlmH. I Nalang(Umpungeng)Rp.50.000,-

88.Sita Arisman(Jolle)Rp.100.000,-

89.Ainun Nisha(Umpungeng)Rp.20.000,-

90.Ansar S(Umpungeng)Rp.100.000,-

91.Alm. Mansyur(Umpungeng)Rp.20.000,-

92.Alm. Mandang(Umpungeng)Rp.50.000,-

93.I Waru(Umpungeng)Rp.50.000,-

94.Azis(Umpungeng)Rp.50.000,-

95.Sakka(Bulu Batu)Rp.200.000,-

96.Tanpa Nama(Umpungeng)Rp.250.000,-

97.Tanpa Nama (Umpungeng)Rp.50.000,-

98.Najwan Faqih(Bantaeng)Rp.300.000,-

99.Erni/Rudi(Basi SulTeng)Rp.100.000,-

100.Hj. Mujrah(Basi SulTeng)Rp.200.000,-

101.Amiruddin(Umpungeng)Rp.100.000,-

102.Samsam (Umpungeng)Rp.1000.000,-

103.Nurtan(Umpungeng)Rp.50.000,-

104.Samsuriana(Umpungeng)Rp.50.000,-

105.Mukaddas(Umpungeng)Rp.1000.000,-

106.Azis(Umpungeng)Rp.400.000,-

107.I Hadi(Umpungeng)Rp.500.000,-

108.Palua(Umpungeng)Rp.10.000,-

109.Alm.Cempeng & AlmH.Kocci(Umpungeng)Rp.50.000,-

110.Saddu Sek.(Umpungeng)Rp.100.000,-

111.Ahmad Faiq Rausyan Maskur(Umpungeng)Rp.100.000,-

112.Umar. P(Umpungeng)Rp.500.000,-

113.Alm.Semma & AlmH.Ralija(Umpungeng)Rp.50.000,-

114.Kasman(Umpungeng)Rp.100.000,-

115.Dala(Umpungeng)Rp.50.000,-

116.Nurtang Kadir(Makassar)Rp.1000.000,-

117.Jodding (Wempelle)Rp.100.000,-

118.Asmawi SP (Labessi)Rp.500.000,-

119.Takdir (Jampu jampu)Rp.50.000,-

120.Tanpa Nama (Makassar)Rp.300.000,-

121.Tike (Kolaka)Rp.100.000,-

122.Ida Juhe (Lagoci)Rp.300.000,-

123.Mansur Abdu (Lolloe)Rp.500.000,-

124.CCC (Cabbengnge)Rp.164.000,-

125.Sitti Hasanah (Umpungeng)Rp.100.000,-

126.Drs.H.A.Soetomo & Kel. (Soppeng)Rp.10.000.000,-

127.Gonrong (Makassar)Rp.1000.000,-

127.Nurhayati Umar (Makassar)Rp.250.000,-

128.H.Ibrahim Abubakar,MPd. (Makassar)Rp.500.000,-